Category Archives: Saham & Forex

Cryptocurrency, Berbahaya Atau Tidak ?

Cryptocurrency, Berbahaya Atau Tidak ?

Dalam dunia investasi milenial seperti sekarang ini, sudah tidak asing bukan dengan kata cryptocurrency ? Di Indonesia sendiri cryptocurrency sangatlah booming. Cryptocurrency sebenarnya mirip dengan trading forex ataupun investasi. Disini kita akan membeli sebuah mata uang digital yang memiliki daya jual, sama halnya seperti saham.

Cryptocurrency dibuat menggunakan kriptografi yang rumit sehingga sulit untuk dipalsukan. Di dunia, cryptocurrency yang paling terkenal adalah Bitcoin, bahkan nama ini jauh lebih terkenal dari cryptocurrency itu sendiri. Di Dunia ini ada berbagai jenis cryptocurrency yang tersedia, misalnya saja Ripple, Litecoin, Ethereum dan lain-lain.

Banyak pertanyaan yang timbul, apakah bermain cryptocurrency itu merupakan investasi yang berbahaya ? Jawabannya adalah iya ! Bahkan pihak BI juga sudah mengatakan bahwa bermain mata uang digital seperti Bitcoin sangat berbahaya. Pasalnya kita tidak bisa melihat darimana perkembangan mata uang tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, Bitcoin bahkan sempat turun dari 240juta rupiah per Bitcoinnya menjadi 120 juta per Bitcoinnya, naik atau turunnya mata uang ini tidak jelas apa penyebabnya. Berbeda dengan bermain saham, kita bisa melihat aliran keuangan suatu perusahaan melalui google. Misalnya saja kita ingin melihat saham dari Mayora, kita tinggal search di Google tentang saham Mayora dan kita bisa mempelajarinya dengan jelas.

Oleh sebab itu bermain cryptocurrency itu berbahaya dan sangat tidak disarankan. Lebih baik melakukan investasi saham yang benar, selain lebih aman kita juga bisa belajar tentang dunia saham yang ada di Indonesia.

Rekomendasi Saham MNCN, BNLI, Dan UNTR Jelang Lebaran

Rekomendasi Saham MNCN, BNLI, Dan UNTR Jelang Lebaran

Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) mengalami penurunan sebanyak 1,08% pada penutupan perdagangan kemarin. Meskipun mengalami penurunan, beberapa analis melihat adanya peluang untuk mendapatkan keuntungan.

Apabila kalian ingin membeli saham untuk masuk kedalam portofolio untuk ditinggal libur lebaran, berikut ini saham yang direkomendasikan oleh para analis.

1. PT Media Nusantara Citra Tbk ( MNCN )

Menurut para analis, saham MNCN mempunya peluang untuk mengalami koreksi teknikal dalam support MA20. MNCN juga punya potensi support bullish channel dan upper bollinger band sebelum rebound serta berpotensi mencapai higher high level.

Rekomendasi analis : Buy on Weakness
Support : Rp 1.150
Resistance : Rp 1.200
Analis : Muhammad Wafi dari Bahana Sekuritas

2. PT Bank Permata Tbk ( BNLI )

Menurut analis, saham BNLI sedang bergerak di sideways area support. Memang ada indikasi bahwa pelemahan hartga sudah mulai terbatas. Analis meminta investor melakukan buy on break dan melepasnya ketika overbought.

Rekomendasi analis : Buy on Weak
Support : Rp 760
Resistance : Rp 1000
Analis : Anthonius Edyson dari Astronacci International

3. PT United Tractors Tbk ( UNTR )

Untuk UNTR saat ini tengah adlam pengujian three black crows pattern candle. RSI nya sendiri tengah mengalami pelemahan dan stochastic mengalami death cross. Meski begitu, volume perdagangan yang dicatatkan UNTR sedang meningkat.

Rekomendasi analis : Buy on Support
Support : Rp 23.400
Resistance : Rp 25.600
Analis : Achmad Yaki dari BCA Sekuritas

Rekomendasi: SMGR Bisa Raih 15.800 ? Apakah Mungkin ?

Rekomendasi: SMGR Bisa Raih 15.800 ? Apakah Mungkin ?

Secara mengejutkan, laba yang didapatkan oleh PT Semen Indonesia ( PERSERO ) Tbk mengalami penurunan yang cukup signifikan pada kuartal pertama 2019 ini, yakni mencapai 34,9%. Hal ini terjadi seiring meningkatnya biaya bunga dan pajak perseroan. Ditengah penurunan ini, apakah saham SMGR ini layak untuk dibeli ?

Adrianus Bias Prasuryo selaku analis PT Bahana Sekuritas menyebutkan bahwa pendapatan yang diraih oleh SMGR di kuartal pertama ini terbilang lemah. Padahal jika melihat margin operasionalnya, SMGR masih bisa dibilang stabil.

Tidak sedikit juga yang berekspektasi bahwa biasanya pendapatan kuartal pertama 2019 akan lebih rendah dari biasanya karena minimnya permintaan pada periode tersebut.

Adrianus juga memperkirakan struktur biaya SMGR bisa kembali meningkat dengan adanya sinergi dengan SMCB. Ini dikarenakan mereka tidak perlu membayar biaya merk dagang HOLCIM di tahun 2020 nanti.

“Kami akan sedikit menurunkan prediksi, dengan asumsi angka penjualan yang rendah di tengah pertumbuhan yang bisa dibilang lambat.”

Fahressi Fahalmesta selaku analis Ciptadana Sekuritas Asia menjelaskan bahwa perkembangan dan penjualan semen di Indonesia pada karutal ini memang lebih rendah ketimbang pada kuartal pertama tahun lalu.

Hal ini juga tidak lepas dari pemuli dimana minat masyarakat untuk membeli juga akan semakin turun, belum lagi faktor cuaca yang tidak menentu membuat proses pembangunan menjadi terganggu.

Meski begitu, Fahalmesta menilai bahwa kedepannya saham SMGR akan kembali meningkat. Untuk saat ini memang ada pelemahan, tapi bukan berarti pelemahan ini terjadi secara permanen.

Jelang Putusan RDG BI, Rupiah Kembali Melemah Per Dollar Amerika

Menjelang pengumuman rapat yang dilakukan Dewan Gubernur Bank Indonesia ( BI ), nilai tukar Rupiah terhadap USD memang terus mengalami perubahan.

Mengutip lansiran Jakarta Interbank Spot Dollar Rate ( Jisdor ), Rupiah kembali mengalami penurunan 10 poin dimana saat ini Rupiah bertengger di angka 14.458 per Dollar Amerika Serikat ( USD ). Sedangkan pada penutupan perdagangan kemarin, Rupiah masih berada di angka 14.448 per USD.

Menurut data yang dilansir Bloomberg, Rupiah justru menguat 11 poin dari 14.463 per USD menjadi 14.452 per USD. Sayangnya penguatan Rupiah hanya terbatas di angka 14.455 per USD saja. Pergerakannya ada di kisaran 14.442/USD – 14.469/USD.

Josua Pardede selaku ekonom PT Bank Permata Tbk menjelaskan bahwa pemain pasar lebih memilih untuk menunggu dan melihat menjelang keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia. Pihak BI akan melaksanakan rapat di tanggal 15 – 16 Juni demi memutuskan kebijakan moneter merangkap suku bunga acuan.

“Kalau biasanya sih, pelaku akan wait and see jelang keputusan RDG. Mereka menanti Rupiah stabil baru bertindak,” ungkap Josua.

Josua juga menambahkan bahwa penguatan USD juga akan terbatas setelah Presiden AS, Donald Trump yang memutuskan untuk menunda penerapan tarif impor mobil Eropa selama enam bulan lamanya. Ini membuat kekhawatiran investor menurun.

“Pernyataan Trump tentang penerapan tarif impor mobil Eropa membuat investor merasa lega,” lanjut Josua.

Sebagai tambahan informasi, Indonesia saat ini mengalami defisit perdagangan mencapai angka 2,5 miliar USD. Josua memprediksikan nilai Rupiah akan berada di kisaran 14.400-14.850 hingga akhir pekan ini.